Tourism and Culture | November 10, 2016 at 03:36 PM post by aiskai (view 896)

Kota Tomohon tak hanya dikenal sebagai kota Bunga yang rutin menggelar TIFF (Tomohon International Flower Festival) saja. Tapi, Tomohon juga mengoleksi sejumlah destinasi wisata geologikal dan geothermal yang khas. Semuanya pun tersebar di berbagai tempat di kota Tomohon dan relatif mudah dijangkau. Asyiknya lagi, berbagai lokasi geowisata itu pun dijelajahi dalam paket tur satu hari saja.

Tim Expose Manado pun secara khusus merancang paket tur geowisata Tomohon dan kemudian mengunjungi destinasi itu satu per satu. Hasil jelajah geowisata Tomohon ini kemudian disajikan bersambung pada bagian kedua ini.

Pintu gerbang ke puncak Mahawu.  (foto ais)

SEKALI lagi disampaikan bila hendak  menikmati puncak Mahawu, serta melihat kota Tomohon dari ketinggian dan beberapa sajian khas tanah Minahasa dari puncak, memilih kesempatan saat cuaca cerah memang menjadi pilihan utama. Karena suasananya pasti akan sangat berbeda ketika cuaca hujan dan berkabut.

Dan bila sudah berada di puncak  Mahwu, sudah tersedia lokasi khusus pengamatan kawah. Dari sini bisa dilihat kawah Mahawu, yang ternyata memang tak pernah berubah selama bertahun-tahun.

‘’Iya, semasa SMA, sekitar 25 tahun lalu, kami pernah berkemah di atas puncak itu,’’ kata Okta Lintong, dosen Jurusan Pariwisata di Politeknik Negeri Manado, sembari menunjuk bagian lain puncak kawah ini. ‘’Penampilan kawah ini tidak banyak berubah. Tapi dulu masih terlihat danau kecil di sekitar kawah,’’ tambah Okta—yang menemani tim Expose Manado menyusuri lokasi geowisata di Tomohon.

Karenanya, ada yang sempat berujar, bila ingin menikmati suasana alam yang tidak banyak  berubah, silahkan datang ke puncak Mahawu saat ini. Lalu, cobalah datang lagi pada 10 atau 20 tahun lalu, diprakirakan penampilannya pasti tak akan banyak berubah dibandingkan datang lagi pada saat ini. Begitu juga, mereka yang pernah datang di puncak Mahawu 20 tahun lalu atau lebih, cobalah datang ke Mahawu dalam waktu dekat ini, kemungkinan besar suasananya tak banyak berubah dibandingkan datang pada saat itu. Yang berubah hanyalah akses jalan yang mudah dicapai dan tanjakan ke puncak yang sudah dipermudah.

Dari beberapa catatan, gunung Mahawu (1.311 meter dpl) tergolong gunung yang tidak aktif. Berbeda dengan gunung Lokon (1.580 meter dpl) yang selalu meletus, hampir setiap tahun. Meski demikian, gunung Mawahu pernah meletus pada tahun 1789, yang kemudian ‘menghasilkan’ lubang kawah selebar 180 meter dengan kedalaman 140  meter. Di kawah ini sempat mengeluarkan letupan kecil, berupa lumpur pada tahun 1977, 1994, dan 1999.

Melihat penampilan kawah yang tenang dan memesona ini, memang sempat mengundang keinginan untuk turun. Ingin mengikuti jejak beberapa orang yang pernah memposting foto turun ke kawah. Apalagi sebenarnya untuk menuruni kawah itu tidak terlalu sulit. Namun kemudian niat kami urungkan, karena memang untuk turun ke kawah, dilarang dan berbahaya. Selain itu, kami selalu ingin sebaiknya memberikan contoh yang baik, untuk mematuhi peringatan dari pihak berwenang.

Yang pasti, di atas ketinggian ini, pengunjung bisa menikmati suasana khas puncak Mahawu. Dari puncak Mahawu, terlihat jelas pula sesama puncak gunung lain, seperti gunung Lokon dan kawah Tompaluan serta gunung Empung, sementara dari arah mata angin yang lain, bisa terlihat jelas toping gunung Klabat.

Lalu, bila mengitari jalan setapak yang sudah dibeton mengelilingi kawah, bisa dilihat beberapa tempat lain, seperti pulau Manado Tua dan Bunaken yang seperti terapung di tengah laut, juga beberapa bagian view kota Manado. Butuh waktu lebih dari satu jam, bagi mereka yang ingin trekking mengelilingi kawah Mahawu.

Bagi yang suka memotret dan mengamati burung, kawasan Mahawu menjadi salah satu lokasi menarik untuk birdwatching. Di antara burung-burung yang bisa diamati, ada yang tergolong burung endemik Sulawesi. Menurut cerita seorang teman fotografer, dalam sehari hingga malam, para pemburu mereka bisa memotret lebih dari 20 jenis burung.

Kondisi ini tak lepas dari ketersediaan area hutan di kawasan Mahawu ini memang relatif masih terjaga. Pepohonan hijau masih padat mengelilingi kawah Mahawu. (bersambung/ak)